
|
D'Owner! ![]() Annyeonghaseyo. Welcome to my wonderland. Replace this with your own profile. Tagboard! ![]() Credits!
| Misteri Coretan Tio Kalian bisa melihat lainnya di http://kidnesia.com Tio memandang gapura di tengah tanah lapang itu sambil menguap. Selain gapura yang masih berdiri kokoh, yang lainnya hanya fondasi reruntuhan batu hitam dan lapangan hijau. “Huh! Apa sih menariknya melihat-lihat reruntuhan batu seperti ini?” Pikir Tio di dalam hati sambil mengedarkan pandangan ke seluruh situs bersejarah Ratu Boko. Batu-batunya yang berwarna hitam itu malah menimbulkan ide. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Teman-temannya masih sibuk mencatat-catat. Pak Guru memang menginginkan mereka membuat karya tulis soal situs reruntuhan batu yang membosankan ini. Tio membuka kotak pensilnya dan mengeluarkan sebotol tip-ex. Berbekal tip-ex, Tio berjalan mengelilingi situs mencari tempat yang paling cocok buat meninggalkan jejaknya. Ya, Tio memang suka sekali menggambar. Hanya itu satu-satunya pelajaran yang diminatinya. Sayangnya, ia suka menggambar di mana-mana. Baginya gambar-gambar dan grafiti hasil karyanya bagus sekali dan sebetulnya memang bagus, hanya tempatnya saja yang tidak tepat. Mejanya di sekolah sudah habis ia gambari dengan tip–ex. Omelan dan hukuman sudah tidak mempan baginya. Sebetulnya sih semua batu di situ hitam, hanya saja yang ini pori-pori batunya lebih halus. Sekali lagi, Tio menoleh ke kiri dan ke kanan. Semua masih sibuk mencatat-catat di atas. Maka mulailah tangan Rio beraksi. Sret sret sret… grafiti nama Tio mulai bermunculan di batu hitam itu. Tak terasa satu batu sudah habis di-‘hiasi’-nya, Tio mulai beralih ke batu-batu lainnya. Saat akhirnya teman-temannya mendekatinya, Tio sudah mencoret-coret sederet penuh batu di reruntuhan keputren situs Ratu Boko. Tidak berapa lama kemudian, saat hari sudah sore, mereka pulang ke rumah masing-masing tanpa seorang pun mengetahui soal grafiti yang dibuat Tio di sana. Suara tawa gadis kecil itu sangat mengganggu Tio. Suara tawa itu disusul dengan suara langkah dan suara gadis lain yang memanggil gadis itu, “Tiur! Tiur!” demikian gadis kecil itu dipanggil. Tiur tetap berlari di antara dinding keraton, lalu ke luar melewati gapur batu hitam, menuju lapangan hijau luas. Tiba-tiba Tiur menoleh ke arah Tio. Lalu ia berjalan ke arah Tio, tangan kecilnya yang memegang kuas teracung tinggi. Tio merasa ketakutan. Ada sesuatu yang aneh pada wajah Tiur. Tampak pucat dan dingin.Tio mulai berlari dan berlari, tapi Tiur terus mengejar dan mendorongnya sampai terjatuh. Tiur lalu menorehkan kuas itu ke pipi Tio. Rasanya sakit, tapi Tio tidak bisa bergerak. Begitu juga saat Tiur mencoret-coret kening dan lengannya. Sakiiit sekali! Tio mulai menjerit keras. “Tio! Tio! Bangun!” Tio tersentak terbangun. Seisi kelas tertawa berderai menertawakan Tio yang ketiduran di kelas. Sampai mengigau menjerit pula. Tio mengusap pipinya dengan malu, alangkah terkejutnya dia. Pipinya tercoret cat putih! “Cuci mukamu dulu, Tio. Bagaimana, sih, sudah kelas 5, masih saja ketiduran di kelas sampai muka belepotan tip-ex,” omel Bu Nasri, wali kelasnya. Tio menurut dan pergi ke kamar mandi sekolah. Namun, coretan-coretan di pipi, kening, dan tangannya tidak mau hilang! Anehnya, saat Tio memperhatikan coretan-coretan itu, coretannya seperti membentuk sesuatu yang amat dikenalnya. Tiba-tiba Tio merinding. Itu seperti grafiti yang ia coretkan di situs Ratu Boko. Suara tawa Tiur di lapangan hijau di luar keraton itu seperti bergema di dalam kamar mandi. Nah, pernahkah kamu bertemu dengan seorang anak laki-laki yang rajin sekali membersihkan grafiti atau coretan yang mengotori tempat-tempat umum? Ya, itulah Tio. Coretan di wajah dan lengannya baru hilang setelah ia membersihkan grafiti namanya di situs Ratu Boko dan semua tempat lain yang pernah ia coret-coret. Dan, astaga, banyak sekali meja, kursi, batu, dinding, patung, dan entah apa lagi, yang harus ia bersihkan! Label: Cerita Misteri Malam Misteriaus di Waduk Pacal
Permukaan Waduk Pacal tampak hitam berkilat-kilat terkena cahaya bulan. Rasa takut Abyan menjadi-jadi. Bagaimana tidak? Ia berada di tepi waduk sendirian pada tengah malam yang gelap. Lebih parah lagi, Abyan tidak tahu kenapa ia bisa berada di situ! ' Pak… pak… kecipak suara air terdengar seperti suara langkah kaki. Sangat misterius dan huks… Abyan takut. Tiba-tiba sraatt! Sesuatu yang tajam dan besar menerjang Abyan. Abyan terpaksa mundur ke arah hutan yang gelap gulita. Oh, tidak! Sesuatu itu mengejarnya. Bukan itu saja, dari kemerisik suara, Abyan tahu pengejarnya semakin banyak. Duk! Abyan jatuh tersandung akar pohon. Sesuatu yang tajam dan berkilat-kilat mendekati Abyan. Paruh! Yang mengejarnya adalah burung merak. Bukan satu, dua, melainkan puluhan sekaligus. Dalam posisi duduk, Abyan merasa amat kecil menghadapi burung-burung itu. Mereka maju mendekati Abyan dengan sikap mengancam. Ekor mereka yang mengembang membentuk siluet-siluet yang menakutkan! Mereka menepuk-nepukkan paruhnya, seakan siap mematuk Abyan. Mereka lalu mendekat dan semakin dekat. Tak tahan lagi, Abyan menjerit sekerasnya, “AAAAAAAAAAHH!! Jangaaan!!!”“Saat kami menjerit-jerit tadi sore, kamu malah tertawa,” jawab suatu suara di samping kanan Abyan. Merak-merak yang mengelilingi Abyan berhenti mendekat.“Aku… aku… kalian… menjerit-jerit?” tanya Abyan terbata-bata. Semak di samping kanan Abyan tersibak. Seekor burung merak yang besar dan anggun muncul.“Ya, tadi sore, kan, kamu asyik mengejar kami dengan ranting. Di tepi Waduk Pacal,” ucap merak itu dengan tenang. Abyan mulai merasa ia bermimpi. Masak merak bisa bicara? Tadi sore memang ia, Mama, Tante Lian, dan Om Soni mengunjungi Waduk Pacal. Mama asyik mengobrol dengan Tante Lian, teman lamanya dulu di Bojonegoro. Akibatnya Abyan merasa bosan. Saat itu ia melihat serombongan merak muncul dari arah hutan jati. Ekor mereka yang mengembang bagus sekali tertimpa sinar matahari sore. Niat isengnya pun muncul. Diambilnya ranting pohon dan dikejarnya merak-merak itu. Merak-merak itu berlari menghindar sambil menguak. Namun, tanpa ampun, Abyan menyabetkan ranting ke arah merak-merak tersebut. Abyan termasuk gesit di kelasnya, jadi, kaki-kaki terlatihnya berhasil membawanya menyabet merak-merak tersebut. Semakin kacau lari merak-merak itu, semakin menarik permainan itu bagi Abyan. “Lihat Peacola! Tubuhnya jadi luka terkena sabetan rantingmu,” ucap si merak besar itu lagi, memecahkan lamunan Abyan. Ia menunjuk ke seekor merak yang mendekam kesakitan di bawah pohon. Itu benar. Sepulang sekolah, Abyan sering merasa bosan di rumah. Salah satu obat kebosanannya adalah mengganggu binatang. Misalnya, ia menciprati semut-semut di dekat tempat gula dengan air. Formasi barisan semut-semut itu langsung buyar. Abyan terkekeh. Ia lalu memainkan jari-jarinya di antara semut-semut, membuat mereka semakin kebingungan. Abyan juga suka mengambil ikan-ikan di akuarium dengan jala kecil. Ia membiarkan airnya menetes habis dan ikan-ikan kecil itu gelagapan mencari nafas di dalam jala. Akhirnya ia memang memasukkan kembali mereka ke dalam air. Namun, rasanya, kan, lumayan sesak. Burung merak besar itu mendekati Abyan. Ajaib, perlahan ia berubah menjadi seorang laki-laki tampan berwajah bijaksana. “Yang kamu pikir keisengan kecil, rasanya menakutkan dan sakit bagi kami, Abyan,” ucapnya. “Tidak enak, kan, dikejar-kejar dan ditakut-takuti?” tanyanya lagi. Abyan terpana. Burung merak itu betul. Rasanya tidak enak! Abyan berjanji ia tidak akan mengisengi hewan-hewan lagi. Selesai mengucapkan janjinya, fajar menyising di hutan itu. Sinar matahari tiba-tiba langsung silau menyinari Abyan. Terdengar suatu suara lain memanggil namanya. Suara Mama. “Abyan, bangun. Kita, kan, mau ke Khayangan Api,” panggil Mama. Astaga, ternyata Abyan benar. Tadi itu ia hanya bermimpi. “Iya, Ma!” sahut Abyan sambil menyingkapkan selimutnya. Wah, terkejutnya dia! Ada sehelai bulu ekor merak di atas perutnya. Abyan yakin sekali, saat ia tidur tadi malam bulu merak itu tidak ada! Abyan lebih kaget lagi saat melihat buku di samping mejanya. Buku itu adalah buku kumpulan legenda Bojonegoro. Mama yang meminjamkannya tadi malam untuk Abyan baca-baca. Namun, Abyan sudah keburu tertidur. Yap, di sampulnya ada laki-laki bijaksana yang berubah menjadi merak di dalam mimpinya! Bergetar tangan Abyan saat ia membaca salah satu cerita di situ. Laki-laki bijaksana itu adalah Angling Darma. Menurut cerita, beliau adalah keturunan Arjuna yang pernah berkuasa di Bojonegoro. Ia mengerti bahasa hewan dan bisa mengubah diri menjadi hewan! (Dari http://www.kidnesia.com) Label: Cerita Misteri |