
|
D'Owner! ![]() Annyeonghaseyo. Welcome to my wonderland. Replace this with your own profile. Tagboard! ![]() Credits!
| Satu Permintaan Namaku Anindya. Aku lahir tanggal 13 September 1997 dan meninggal tanggal 14 Maret 2009 pukul 11. 39 karena sebuah kecelakaan. Aku dimakamkan di sebuah pemakaman terkenal di kotaku. Kini, jasadku masih bersemayam tenang di liang lahat merah tempat aku dimakamkan. Kematianku ini menimbulkan kesedihan yang amat teramat dalam di hati orang-orang terdekatku. Ibu, contohnya. Sampai sekarang, walau sudah lewat setahun dari hari kematianku, ibu masih saja mencariku. Kadangkala, beliau menyuruhku melakukan sesuatu seperti dulu sebelum aku meninggal. Pernah juga, beliau duduk di tepi ranjangku dan membacakan dongeng kesukaanku. Setiap melihat ibu, aku hanya bisa menangis terharu. Ingin rasanya aku kembali ke bumi ini dengan wujud manusia. Aku ingin membahagiakan ibu. Paling tidak, aku bisa memenuhi satu permintaan beliau. Ibu, jangan khawatir, Anindya sudah hidup bahagia di sebuah tempat yang amat indah dan damai …. Seperti yang sudah kubilang, kini, aku hidup di sebuah tempat yang teramat indah dan damai. Walaupun kata “bahagia” itu bukanlah fakta. Hari-hariku selalu kosong. Aku memang memiliki teman, namun sedikit. Mengingat soal teman, aku jadi teringat akan Rasya dan Satrio, sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Rasya dan Satrio, hingga kini, mereka tak dapat melupakanku. Tiap minggu, Rasya selalu berziarah ke makamku dengan membawa seikat bunga. Satrio lain lagi. Jika ia pergi ke makamku, entah mengapa dia selalu pingsan. Akhirnya, kebiasaannya untuk mengingatku adalah dengan cara melihat album-album kenangan kami. Itupun dilakukannya dengan susah payah karena Satrio pasti akan menangis, walau hanya melihat sampul album. Terkadang, aku membisiki Rasya dan Satrio agar mereka tak menangis dan segera melupakan aku. Bisikan itu membuat mereka terkenang akan suaraku yang lembut. Tangisan mereka justru bertambah keras. Tak dapat membendung rasa haru, air mataku selalu jatuh saat itu.Mungkin aku terlalu mengenang masa-masa yang sudah lalu. Hingga tanpa sadar, air mataku menitik, dan jatuh semakin deras. “Anindya, anakku. Mengapa kamu menangis?” tanya Dewi Kehidupan sambil membelai rambutku. “Aku ingat masa laluku, Dewi. Aku ingin kembali,” jawabku. Dewi Kehidupan lalu memelukku. “Anindya, kamu tak bisa kembali. Mustahil jika seseorang yang telah mati dapat hidup kembali. Kecuali jika kamu hidup sebagai orang lain,” kata Dewi Kehidupan. Air mataku menitik kembali, “tapi aku kesepian, Dewi. Adakah cara untuk menyertakanku bersama keluargaku?” Sang Dewi menjawabnya dengan santai, namun berwibawa, “Pergilah bersama awan putih ke rumah keluargamu. Kamu bisa lihat keadaan keluargamu sekarang.” Aku mendesah, “Aku sudah sering melakukannya, Dewi. Yang aku inginkan lebih dari itu. Percuma saja aku pergi kesana. Keluargaku tak dapat melihatku. Yang aku inginkan, kami bersama, Dewi.” Dewi Kehidupan tampak berpikir sebentar. “Sebenarnya, aku punya kekuatan terbesar. Hal itu, yakni memundurkan waktu. Namun, kekuatan itu hanya bisa dipakai tiga kali. Aku memang belum pernah memakainya. Resikonya besar. Kekuatan kahyangan tempat kita tinggal akan menipis ketika aku memakai kekuatan pemundur waktu tersebut. Tapi, aku punya cara lain Anindya. Ini semua tergantung kamu yang setuju atau tidak,” kata Dewi Kehidupan. “Apa caranya, Dewi?” tanyaku tak sabaran. “Aku tak bisa membawamu kembali ke bumi. Jadi, keluargamu yang akan kubawa ke sini. Bagaimana?” tawar Dewi Kehidupan. Aku terperanjat. “Maksud Dewi, keluargaku meninggal?” tanyaku memastikan. Sang Dewi mengangguk. “Iya. Kamu setuju atau tidak?” tanya Dewi Kehidupan. Sontak, aku menggeleng, “Tidak! Lebih baik aku hidup kesepian ketimbang keluargaku harus meninggal!” Dengan kesal, aku pun melenggang pergi dari hadapan Dewi Kehidupan. Dewi Kehidupan hanya menatapku yang melenggang pergi. “Anindya …” *** Aku kembali kesepian. Tawaran Dewi Kehidupan beberapa hari yang lalu kutolak. Yah, itu lebih baik daripada aku harus mengorbankan keluargaku demi mengobati segala kesepianku. Aku ingin mereka hidup bahagia. Ya, walaupun tanpa aku …. “Ibu … aku rindu …,” gumamku sambil bersandar di bangku taman. Ingatanku pun melayang entah kemana. “Anindya, itukah engkau?” sapa seseorang yang nampaknya sangat familiar denganku. Aku menoleh. Persis di belakangku, ada seorang wanita yang rambutnya di gelung model updo yang begitu khas. Ibu! “Ibu …,” balasku. Aku begitu kaget. Kenapa ibu bisa ada di sini? Bukankah tawaran Dewi Kehidupan sudah kutolak? Ibu menghambur memelukku. Bersamaan dengan itu, muncul juga sosok ayah dan Harris. “Anindya, ibu sangat rindu …,” kata beliau tersedu-sedu. Aku hanya diam, tak menyahut. “Ibu …,” air mataku pun mulai mengucur deras. Segera setelah ibu melepaskan pelukannya, aku berlari ke istana Dewi Kehidupan. “Dewi …,” kataku usai sampai di istana. “Ya?” tanya Dewi Kehidupan sambil bangkit dari singgasananya. “Kenapa keluargaku ada dis ini? Bukankah tawaranku sudah kutolak?” protesku. Dewi Kehidupan mendekatiku, lalu membelaiku. “Aku kasihan kepadamu, Nindya sayang …. Kau selalu kesepian …,” kata beliau bijak. “Aku tak mau mengorbankan keluargaku hanya untuk mengobati kesepianku, Dewi. Tolong, kembalikan keluargaku …,” pintaku. Dewi Kehidupan termenung. “Serius?” tanyanya meyakinkan. “Aku lebih baik kesepian dan mereka bahagia, ketimbang mereka berkorban,” kataku meyakinkan. “Aku sayang mereka, Dewi …,” Dewi Kehidupan tambah termenung. “Baiklah. Kamu betul-betul anak yang tulus, Anindya. Aku akan menggunakan kekuatan terbesarku untuk memundurkan waktu. Aku akan balikkan semua sehingga keluargamu kembali hidup …,” kata Dewi Kehidupan. “Terima kasih Dewi! Terima ka …,” ucapanku terputus karena air mataku kembali mengucur. Kesepian akan jadi temanku lagi …. Dewi Kehidupan menatap iba, “Anindya, aku tahu kamu adalah sosok anak yang sangat tulus dan penyayang. Maka, aku akan mundurkan waktu sampai tanggal 14 Maret 2009 pukul 11. 39 yang jadi waktu kematianmu. Saat itu, aku tak akan membiarkanmu mati. Kamu akan tetap hidup, Anindya.” Wajahku yang semula bersinar cerah, kini bersinar tambah cerah. “Terima kasih, Dewi!” kataku sambil menghambur memeluk Dewi Kehidupan. Dewi Kehidupan balas memelukku. “Aku tahu akan berat kehilanganmu. Namun, pengorbananmu itu hebat sekali, Anindya,” puji Dewi Kehidupan. “Sekarang, pejamkanlah matamu hingga aku berbisik untuk membuka mata. Aku menurut. Segera, kupejamkan mataku. Tiba-tiba, tubuhku terasa terangkat, berputar-putar, lalu tenang. “Anindya, bukalah matamu,” pinta Dewi Kehidupan. Perlahan tapi pasti, kubuka kedua kelopak mataku. Dan tebak apa yang ada di depanku? Ya, semua keluargaku yang sedang menunggu cemas. Tak lupa, Rasya dan Satrio juga tampak di sana. “Anindya! Kamu sudah siuman, Nak!” seru ibu. Kecemasan yang ada di ruangan itu pun hilang. Aku tersenyum tipis. “Syukurlah, Anindya! Kami kira, kami akan kehilangan dirimu,” kata Rasya. Air mata bahagia mengucur deras dari pelupuk matanya. Senyumku yang semula tipis, menjadi lebar ketika aku melihat jam. Pukul 11. 39, waktu kematianku. Dan, tepat di bawah jam, walau samar-samar, aku dapat melihat sosok cantik Dewi Kehidupan. Dia sedang tersenyum padaku. Aku pun balik tersenyum padanya. Terima kasih, Dewi …. Engkau telah memberiku kesempatan untuk hidup di dunia ini kembali. Terima kasih! (sumber: www.bobo.kidnesia.com) Label: Cerita Pendek Time is Money "Milla, jangan habiskan waktumu untuk menonton seharian ini!" tegur Corner, kakak sulung Milla. "Emangnya kenapa? Bweee.." jawab Milla mengejek kakaknya. Papa Milla adalah seorang pegawai swasta, sedangkan Mama Milla adalah seorang pemilik butik terkenal. Corner, kakak Milla masih duduk di kelas 3 SMP Cemara Putih. Dan Milla duduk di kelas 4 SD Kembang Indah. Suatu hari, Milla dinasehati kak Corner karena volume TV yang dibesarkan oleh Milla sehingga kak Corner tidak bisa berkonsentrasi saat belajar untuk menghadapi ujian di sekolahnya. "Milla,waktu adalah uang bagi kita! Matikan TV dan mulai belajar untuk ujian besok! Mama tidak disini, jadi jangan buat mama kecewa saat melihat hasil ujianmu karena tidak belajar," kata kak Corner memulai nasehatnya. Milla hanya terduduk lesu,ia tidak menjawab apa-apa. Milla berlalu dari kamar kakaknya. Ia mematikan TV dan mulai belajar. Keesokan harinya, Milla mengerjakan ujian dengan mudah. Sedangkan teman-temannya terlihat kebingungan. Lusa,hasil ujian akan dibagikan. Lusa pun tiba… Milla merasa takut dengan hasil ujiannya. Ia takut hasil nilainya jelek dan mama akan kecewa kepadanya. Tapi dugaan Milla tidak benar. Bahkan Milla mendapat nilai tertinggi di kelasnya. Milla pulang dengan hati ceria. Ia akan mengabarkan hasil ujiannya kepada kak Corner dan Mama. Di rumah, "Mamaaa! Hasil ujianku sangat bagus." kata Milla. "Wah,mama bangga sama Milla," jawab Mama. 4 bulan pun berlalu, kini Milla sudah kelas 5. Ia bertekad akan selalu mencontoh sifat kak Corner. Milla sudah malas menonton. Ia lebih suka belajar dan ingat selalu perkataan kak Corner yang berbunyi "Time Is Money". Bagi Milla, siapapun yang menyia-nyiakan waktu sama saja seperti menyia-nyiakan uang karena waktu adalah uang. Jadi, jangan sia-siakan waktumu, ya! (Sumber: www.bobo.kidnesia.com) Label: Cerita Pendek Bertemu Idola Impian Bruakk!!! Terdengar pintu kamar Carol di banting dengan keras. “Carol!! Pintunya enggak boleh di banting gitu dong!” tegur Kak Vee, Kakak Carol. “Habis Carol sebel sama Reva ” jawab Carol dengan muka cemberut. “Kenapa kok sebel sama Reva?” tanya Kak Vee. “Sini ceritain ke Kakak ” lanjut Kak Vee sambil menarik tangan Carol. “Gini Kak ceritanya, tadi sewaktu Carol datang ke sekolah Carol ketemu Reva dan Nancy. Mereka itu ngobrol tentang idola mereka yang sudah mereka temui, yaitu Violet, penyanyi terkenal dari Kota De’ Green Elite. Nah setelah itu, mereka memamerkan tanda tangan Violet dan fotonya ke Carol. Terus Carol sebel karena mereka mengejek Carol enggak pernah ketemu idola Carol, Bave Tateria. Gitu aja ceritanya, ” jawab Carol. “Oh, menurut Kakak sih mereka itu keterlaluan banget, karena mereka tega sama sahabat sendiri, ” ujar Kak Vee menilai. “Emang sih Kak Vee, tapi mere..” omongan Carol terputus. “Kenapa Carol? Kamu sakit apa kenapa? ” tanya Kak Vee kawatir . “Enggak kenapa-kenapa kok Kak, ” jawab Carol tersenyum . “Kalau begitu lanjutin, dong, ” pinta Kak Vee. “Mereka itu semakin menyebalkan, saat Carol terpeleset di tangga. Bukannya nolong malah nertawain Carol, ” ujar Carol dengan muka sedih. “Adik Kak Vee enggak boleh sedih, ” kata Kak Vee sambil mengelus rambut Carol yang pirang keemasan itu. “Carol mau ikut Kak Vee enggak? ” lanjut Kak Vee menanyai Carol. “Kemana Kak?” tanya Carol bingung . “Ketemu Bave Tateria sama Queen Bee, kalau ikut Bbsok kita ke sana, ” jawab Kak Vee. “Hore....Hore!! ” teriak Carol girang sambil melonjak-lonjak di kasur Princessnya yang baru di belikan Papanya. “Sekarang kita beli baju di Barat Modern City Green,” ajak Kak Vee. “Yipiie !!! ” teriak Carol lebih keras dari sebelumnya. Mereka berangkat naik motor listrik milik Kak Dee, Kakak pertama Carol. Lima menit kemudian mereka sampai ke tempat tujuan. Saat memasuki Fashion Color of Paris, Carol segera berlari ke bagian gaun, di sana Carol melihat ada banyak gaun indah. Segera Kak Vee menyusul Carol ke situ. “Pilihlah sesuka hatimu, Kak Vee mau melihat gaun di samping, ” kata Kak Vee sambil menunjukkan tempatnya. “Ya, Kak, ” jawab Carol yang masih menatap gaun itu. Carol pun memilih gaun berwarna ungu dengan glitter pink dan merah serta gaun biru dengan bintang-bintang berglitter warna biru tua. “Kak sudah nih,” kata Carol sambil membawa gaunnya. “Bawa ke kasir dulu ya kakak masih kurang satu gaunnya, ” jawab Kak Vee. “Enggak ” tolak Carol . kemudian Kak Vee pun selesai memilih gaun . “Nah ayo ke kasir ” kata Kak Vee yang beranjak menuju ke kasir. “Pilihan yang bagus, ” puji Petugas Kasir itu sambil tersenyum. “Terima kasih, ” jawab Kak Vee. “Untuk gaun ungu mendapatkan kalung bulan warna ungu dan bando bulan ungu juga serta gaun biru mendapatkan kalung bintang berglitter dan diary, ” kata petugas kasir itu. “Ini diary-nya, silahkan memilih, ” lanjut petugas kasir itu sambil memberikan beberapa diary yang lucu. Ada yang warna hijau dengan gambar daun yang hijau, ada yang berwarna orange bergambar mobil, ada juga yang berwarna merah. Tapi Carol lebih tertarik untuk mengambil yang berwarna ungu dengan gambar anak perempuan dan kucingnya dan bonus bolpoint yang di atas nya ada bulu pinknya. “Ini saja, ” kata Carol menyerahkan diary itu. Kemudian mereka pulang untuk beristirahat agar besok tidak terlambat bertemu idola Carol. Paginya, mereka sudah bersiap berangkat. Mereka akan diantar Mr. Guard. Tak terasa, mereka sampai di Hall Liperariana Zip. Mereka pun segera masuk ke dalam dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Acara berlangsung selama 20 menit. Saat selesai, Carol minta tanda tangan, foto, dan alamat rumah kepada idolanya tersebut. Sampai di rumah, Carol senang sekali karena ia bisa bertemu idolanya dan besok akan dibawa ke sekolah. Besoknya, di sekolah semua siswa mengelilingi Carol. Mereka kagum, di tengah keramaian itu Reva dan Nancy meminta maaf atas kesombongan mereka. Tentu saja Carol memaafkan mereka ... (Sumber: http://bobo.kidnesia.com) Label: Cerita Pendek |