Permukaan Waduk Pacal tampak hitam berkilat-kilat terkena cahaya bulan. Rasa takut Abyan menjadi-jadi.
Bagaimana tidak? Ia berada di tepi waduk sendirian pada tengah malam
yang gelap. Lebih parah lagi, Abyan tidak tahu kenapa ia bisa berada di
situ! '
Pssst…pssttt…pssst… gemerisik dedaunan seperti suara orang-orang berbisik membuat Abyan semakin takut.
Pak… pak… kecipak suara air terdengar seperti suara langkah kaki. Sangat misterius dan huks… Abyan takut.
Tiba-tiba sraatt! Sesuatu yang tajam dan besar menerjang Abyan. Abyan terpaksa mundur ke arah hutan yang gelap gulita.
Oh, tidak! Sesuatu itu mengejarnya.
Bukan itu saja, dari kemerisik suara, Abyan tahu pengejarnya semakin banyak.
Duk! Abyan jatuh tersandung akar pohon. Sesuatu yang tajam dan
berkilat-kilat mendekati Abyan. Paruh! Yang mengejarnya adalah burung
merak. Bukan satu, dua, melainkan puluhan sekaligus.
Dalam posisi duduk, Abyan merasa amat kecil menghadapi burung-burung
itu. Mereka maju mendekati Abyan dengan sikap mengancam. Ekor mereka
yang mengembang membentuk siluet-siluet yang menakutkan!
Mereka menepuk-nepukkan paruhnya, seakan siap mematuk Abyan. Mereka
lalu mendekat dan semakin dekat. Tak tahan lagi, Abyan menjerit
sekerasnya,
“AAAAAAAAAAHH!! Jangaaan!!!”“Saat kami menjerit-jerit tadi sore, kamu malah tertawa,” jawab suatu suara di samping kanan Abyan.
Merak-merak yang mengelilingi Abyan berhenti mendekat.“Aku… aku… kalian… menjerit-jerit?” tanya Abyan terbata-bata.
Semak di samping kanan Abyan tersibak. Seekor burung merak yang besar
dan anggun muncul.“Ya, tadi sore, kan, kamu asyik mengejar kami dengan
ranting. Di tepi Waduk Pacal,” ucap merak itu dengan tenang.
Abyan mulai merasa ia bermimpi. Masak merak bisa bicara? Tadi sore memang ia, Mama, Tante Lian, dan Om Soni mengunjungi
Waduk Pacal.
Mama asyik mengobrol dengan Tante Lian, teman lamanya dulu di Bojonegoro. Akibatnya Abyan merasa bosan.
Saat itu ia melihat serombongan merak muncul dari arah hutan jati.
Ekor mereka yang mengembang bagus sekali tertimpa sinar matahari
sore. Niat isengnya pun muncul. Diambilnya ranting pohon dan dikejarnya
merak-merak itu.
Merak-merak itu berlari menghindar sambil menguak. Namun, tanpa ampun, Abyan menyabetkan ranting ke arah merak-merak tersebut.
Abyan termasuk gesit di kelasnya, jadi, kaki-kaki terlatihnya
berhasil membawanya menyabet merak-merak tersebut. Semakin kacau lari
merak-merak itu, semakin menarik permainan itu bagi Abyan.
“Lihat Peacola! Tubuhnya jadi luka terkena sabetan rantingmu,” ucap
si merak besar itu lagi, memecahkan lamunan Abyan. Ia menunjuk ke seekor
merak yang mendekam kesakitan di bawah pohon.
“Dan menurut semut yang tadi tak sengaja terbawa di dalam tasmu, kamu
memang suka mengisengi binatang!” Tuduhnya, membuat Abyan gelagapan.
Itu benar. Sepulang sekolah, Abyan sering merasa bosan di rumah.
Salah satu obat kebosanannya adalah mengganggu binatang. Misalnya, ia menciprati semut-semut di dekat tempat gula dengan air.
Formasi barisan semut-semut itu langsung buyar. Abyan terkekeh. Ia
lalu memainkan jari-jarinya di antara semut-semut, membuat mereka
semakin kebingungan.
Abyan juga suka mengambil ikan-ikan di akuarium dengan jala kecil. Ia
membiarkan airnya menetes habis dan ikan-ikan kecil itu gelagapan
mencari nafas di dalam jala. Akhirnya ia memang memasukkan kembali
mereka ke dalam air. Namun, rasanya, kan, lumayan sesak.
Burung merak besar itu mendekati Abyan. Ajaib, perlahan ia berubah menjadi seorang laki-laki tampan berwajah bijaksana.
“Yang kamu pikir keisengan kecil, rasanya menakutkan dan sakit bagi
kami, Abyan,” ucapnya. “Tidak enak, kan, dikejar-kejar dan
ditakut-takuti?” tanyanya lagi.
Abyan terpana. Burung merak itu betul. Rasanya tidak enak! Abyan berjanji ia tidak akan mengisengi hewan-hewan lagi.
Selesai mengucapkan janjinya, fajar menyising di hutan itu. Sinar
matahari tiba-tiba langsung silau menyinari Abyan. Terdengar suatu suara
lain memanggil namanya. Suara Mama.
“Abyan, bangun. Kita, kan, mau ke Khayangan Api,” panggil Mama. Astaga, ternyata Abyan benar. Tadi itu ia hanya bermimpi.
“Iya, Ma!” sahut Abyan sambil menyingkapkan selimutnya. Wah,
terkejutnya dia! Ada sehelai bulu ekor merak di atas perutnya. Abyan
yakin sekali, saat ia tidur tadi malam bulu merak itu tidak ada!
Abyan lebih kaget lagi saat melihat buku di samping mejanya. Buku itu adalah buku kumpulan legenda
Bojonegoro.
Mama yang meminjamkannya tadi malam untuk Abyan baca-baca. Namun,
Abyan sudah keburu tertidur. Yap, di sampulnya ada laki-laki bijaksana
yang berubah menjadi merak di dalam mimpinya!
Bergetar tangan Abyan saat ia membaca salah satu cerita di situ. Laki-laki bijaksana itu adalah Angling Darma.
Menurut cerita, beliau adalah keturunan Arjuna yang pernah berkuasa
di Bojonegoro. Ia mengerti bahasa hewan dan bisa mengubah diri menjadi
hewan!
(Dari http://www.kidnesia.com)